Seleksi dan rekruitmen pasukan Gurkha mungkin boleh disebut yang
terunik di dunia. Bagaimana tidak, alih-alih menempa para prajurit
Gurkha dengan latihan keras, para rekrutmen yang datang sudah punya
modal fisik yang tangguh.
Inggris memang beruntung. Fisik anggota suku-suku di kaki gunung
Himalaya yang mendaftar masuk menjadi prajurit Gurkha rata-rata memang
sudah di atas standar yang diinginkan. Kalau diibaratkan patung,
alam
dan lingkungan Nepal telah mampu membentuk fisik para rekrutmen menjadi
sekeras cadas. AD Inggris hanya tinggal memolesnya saja untuk menjadi
prajurit tempur yang tangguh.
Akan tetapi, AD Inggris tentu hanya mau input yang terbaik. Berhubung
Resimen Gurkha personelnya terus-menerus diciutkan, seleksi pada
tahun-tahun belakangan menjadi semakin ketat. Namun hal ini tidak
menghalangi minat pendaftar. Maldum saja, terpilih menjadi kandidat
Gurkha laksana mendapatkan lotere, karena itu menjadi tiket keluar dari
kemiskinan dan jalan keluar untuk melihat dunia yang lebih luas. Tiap
tahunnya, tak kurang dari 25.000 pemuda mendaftar masuk dalam seleksi
menjadi anggota Gurkha, padahal yang diterima tak lebih dari 230.

Foto-foto ini adalah gambaran proses rekrutmen pasukan Gurkha. Diantaranya adalah pemeriksaan gigi.

Tes ketahanan tubuh dengan sit-up

Setelah
lolos seleksi mereka dibariskan berdasarkan nomor angkatan. Seleksi
Gurkha terkenal sangat ketat. Pada tahun 1998, dari 300 pelamar hanya
satu orang yang diterima.
Tugas perekrutan prajurit Gurkha jatuh ke tangan
BGN (British Gurkha Nepal)
yang bermarkas di Jawalakhel, Kathmandu. BGN yang bertanggungjawab
langsung kepada HQ, Land Command dipimpin oleh seorang perwira
berpangkat kolonel yang biasanya sekaligus menjabat sebagai atase
pertahanan di Kedutaan Besar Inggris di Kathmandu. BGN bertanggungjawab
terhadap segala urusan seorang prajurit Gurkha, mulai saat is direkrut
sampai kemudian memasuki pensiunnya. Dalam hal sirkulasi uang, BGN
merupakan kekuatan ekonomi terbesar keempat di Nepal, melebihi berbagai
perusahaan-perusahaan swasta. BGN memiliki 3 pusat pelatihan yaitu
British Gurkhas Kathmandu, British Gurkhas Pokhara, dan British Gurkhas
Itahari. Dari ketiganya, Britih Gurkhas Pokhara yang terletak di distrik
Barat, 8 jam perjalanan dari Kathmandu, merupakan koordinator proses
rekrutmen.
Dalam proses rekrutmen Gurkha, BGP dibantu oleh Galla Wallah Galla
Wallah merupakan pensiunan Gurkha yang bekerja secara khusus untuk
mencari kandidat-kandidat calon Gurkha terbaik. Galla Wallah bekerja
sesuai dengan arahan BGN dan memulai pencariannya dari desa ke desa pada
bulan Mei sampai September. Seleksi yang dilakukan oleh Galla Wallah
biasanya didasarkan oleh pada sejumlah standar fisik, seperti tinggi
badan, lebar bahu, dan ukuran-ukuran spesifik lainnya. Dalam periode
lima bulan tersebut, seorang Galla Wallah bisa merekrut sampai 100
calon, biasanya diutamakan dari yang keluarganya memiliki sejarah
pengabdian di dalam Gurkha Regiment.

Sebagian
pemuda Nepal yang datang dan mendaftar sebagai prajurit Gurkha pada
tahun 1997 saat sedang menjalani seleksi fisik. Terlihat wajah-wajah
belia dan polos namun degan tubuh yang tegap berisi. Pemuda-pemuda desa
ini berharap dapat memperbaiki taraf hidup diri dan keluarganya degan
menjadi prajurit Gurkha.
Pada waktu yang telah ditentukan, biasanya di awal musim semi, para
calon-calon kandidat mendatangi bukit yang telah ditentukan untuk
menjalani hill selection. Di bukit tersebut, telah menunggu enam tim
yang terdiri dari para NCO Gurkha yang akan melakukan penyaringan awal
berdasarkan pemeriksaan kesehatan, kemampuan baca-tulis dasar, dan tes
fisik dasar. Dad puluhan ribu yang datang, yang diambil hanya 800-900
orang, jadi sudah terbayang betapa ketatnya saringan untuk menjadi
seorang Gurkha. Bagi sejumlah kecil yang lulus, mereka diberitahu untuk
datang ke Pokhara guna menjalani seleksi lanjutan.
Pada bulan Desember sampai Januari, BGP menyelenggarakan seleksi yang
disebut Central Selection. Inilah yang merupakan tes awal yang
sesungguhnya. Para kandidat yang sudah dinyatakan lulus dalam hill
selection berdatangan ke pusat latihan di Pokhara. Sebagian menggunakan
kendaraan umum, tapi ada yang berjalan kaki berjam-jam dari desanya
sendiri. Para pemuda yang sudah tiba di Pokhara akan dibariskan. Mereka
diperintahkan bertelanjang dada dan cat khusus dicoretkan secara
yertikal di dada, mencegah mereka -ang dinyatakan gagal untuk menjalani
tes ulang. Selanjutnya, tiap kandidat harus menjalani ,eiumlah tes,
dimulai dari tes esehatan yang meliputi x-ray dan gigi, kemudian
dilanjutkan dengan :es baca-tulis. Bagi sebagian besar kandidat, mungkin
inilah pertama kalinya dalam hidupnya mereka bertemu dan menjalani
pemeriksaan check-up bersama dokter dan berkenalan dengan pengobatan
modern.

Salah
satu proses menjadi prajurit Gurkha adalah berlari lintas alam dengan
menggendong beban seberat 35 kg dengan doko keranjang tradisional Nepal.

Setelah
tes kesehatan dan administratif selesai, giliran tes kecakapan fisik
yang didesain dalam beberapa tahap. Seorang kandidat harus mampu
melakukan 13 pull up dengan beban serta 25 kali sit-up dalam satu menit,
dilanjutkan terus dengan dicatat sampai akhirnya si kandidat kelelahan.
Kandidat juga harus berlari sejauh 1,5 mil dalam 14 menit, diselingi
istirahat sejenak, lalu harus lari lagi sejauh 1,5 mil dalam 10 menit.
Ujian akhir dalam Central Selection adalah Doko Race, yang dilaksanakan
pada sore hari di bukit di sebelah pusat latihan Pokhara. Tiap kandidat
harus berlari ke atasnya, mendaki ke atas dengan memanggul beban berupa
batu seberat 35kg dalam doko (keranjang tradisional Nepal). Setelah
sampai di atas, mereka harus berlari lagi ke bawah, dan satu kali
perjalanan bolak-balik tersebut hams sudah diselesaikan sebelum
stopwatch menunjukkan waktu 35 menit. Seleksi ini jauh lebih ketat
daripada tes masuk prajurit untuk unit infantri reguler AD Inggris,
sehingga dari awal sudah ketahuan bahwa Gurkha memang didesain sebagai
satu kesatuan yang elite, dengan kohesifitas tim yang luar biasa. Mereka
yang lulus kemudian dibariskan untuk menjalani At- testation Parade.
Satu-persatu, tiap kandidat menghadap ke arah foto Ratu Elizabeth II
yang diletakkan di atas hamparan bendera Union Jack. Tiap kandidat
memberikan hormat pada Ratu, dan kemudian menyentuhkan tangannya ke
Union Jack seraya mengucap sumpah setia pada Ratu dan Negeri Inggris
Raya. Setelah itu, tiap kandidat yang lulus tadi diberikan kesempatan
untuk menemui istri atau sanak keluarga yang biasanya menyertai mereka
dalam perjalanan ke Pokhara, untuk mengucapkan salam perpisahan.
Biasanya upacara kecil-kecilan dilaksanakan pada momen-momen terakhir
sebelum tiap kandidat diberangkatkan ke Inggris. Untaian Marla (karangan
bunga) dan scarf sutra akan dikalungkan di leher kandidat untuk
memberikan doa restu dan keselamatan, serta upacara Tika, meraupkan
tepung beras ke kening sebagai simbol restu dari keluarga.
Tiba di Inggris
Tahap selanjutnya, kandidat akan dibawa ke Inggris, tepatnya ke
Gurkha Training Company di Catterick, yang juga merupakan markas dari
2nd Battalion, Infantry Training Centre. Rumah baru bagi GTC ini baru
ditempati pada Desember 1999, setelah sebelumnya beberapa kali mengalami
kepindahan. Pada Agustus 1951- 1971, Gurkha Training Depot dipusatkan
di Sungai Patani, Kedah Malaysia. Seiring berakhirnya Malaya Emergency
dan Konfrontasi, pusat latihan Gurkha ikut bergeser mengikuti kepindahan
markas besar Gurkha ke Hongkong, di Sek-Kong. Dan ketika Hongkong
diserahkan ke RRC pada 1994, Gurkha Training Wing ikut bergeser di
Church Crock-ham, tepatnya di Queen Elizabeth barracks, sebelum
berpindah ke tempatnya yang baru sekarang.

Papan nama di depan kantor pusat Gurkha di Pokhara, Nepal.
Di Helles Barracks, tiap kandidat yang baru tiba ditempatkan ke dalam
salah satu dari dua Wing, Wing A (Imphal) dan Wing B (Catterick) dan
digolongkan sebagai SUT (Soldier Under Training), tak beda dengan taruna
lainnya. Namun begitu, silabi pendidikan untuk talon Gurkha tetap
dibedakan, begitu pula cara pendidikannya. Sebagai contoh, tiap taruna
langsung ditunjuk masuk kedalam seksi (setara regu dalam terminologi AS)
yang dipimpin oleh seorang kopral yang juga seorang Gurkha. Bagi tiap
anggota seksi, kopral ini adalah ayah, sahabat, kakak, dan juga
sekaligus pemimpin mereka. Pemimpin seksi ini disebut Gurunji (Guru)
oleh para siswanya, dan memang begitulah cara mendidik para siswa
Gurkha.
Dibanding menggunakan seorang
drill sergeant
yang menerapkan disiplin militeristik yang kaku dan keras, seorang
Gurunji menggunakan metode semi formal dalam menanamkan setiap nilai dan
pengetahuan yang diperlukan seorang calon Gurkha. Metode ini dianggap
lebih efektif, mengingat siswa Gurkha yang datang dari desa-desa
terpencil pasti akan terkaget-kaget bila langsung didrill secara keras,
dan bukan tak mungkin akan membangkang. Lagi pula nyaris semua calon
Gurkha ini tidak (bisa berbahasa Inggris, dan keberadaan Gurunji juga
membantu mereka meningkatkan pemahamannya akan bahasa man mereka saat
ditugaskan kelak. Tiap siswa akan diberikan pelajaran bahasa Inggris
secara intensif yang dilakukan oleh Gurkha Language Wing selama 9
minggu, 3 minggu di kelas dan 6 minggu secara berselang-seling dengan
silabi militer.
Silabi Militer
Sementara untuk penggemblengan kecakapan keprajuritan Gurkha, AD Inggris ternyata merasa cukup menerapkan CIC
(Combat Infatryman Course)
yang sama dengan prajurit reguler AD Inggris. Maklum saja, soal urusan
fisik, Central Selection dianggap sudah mampu menyaring kandidat
sehingga tiap calon yang sampai di Inggris punya modal lebih dalam hal
kebugaran dan kemampuan fisik, tinggal memolesnya saja untuk menjadi
seorang prajurit infanteri Gurkha yang tangguh. Pendidikan selama 37
minggu ini dipusatkan pada pembangunan kemampuan fisik dan kemampuan
tempur, terutama dalam manuver seksi dan peleton. Total jenderal ada
delapan kali latihan, dengan 37 hari dan 26 malam dihabiskan di medan,
sisanya di kelas.

Beberapa
prajurit Gurkha sedang mengunjungi Pantai Gibraltar dan berpose di
depan sebuah meriam perlahanan pantai. Kunjungan seperli ini merupakan
salah satu silabi sosial yang harus dijalani setiap prajurit Gurkha.
Materi yang diajarkan mulai dari taktik serang level seksi, patroli,
pertahanan, FIBUA (Fighting in Built Up Areas) termasuk materi terbatas
pertempuran jarak dekat, diakhiri 5 hari latihan kecakapan dengan
menggunakan senjata level seksi, mulai dari senapan serbu L85A2, senapan
mesin regu L86A2, senapan mesin FN MAG/ L7, granat, dan mortir 60 mm.
Ujian akhir dilaksanakan dalam bentuk mock-up serangan dengan manuver
level peleton, untuk memastikan bahwa setiap siswa Gurkha mampu
menunjukkan kemampuan tempur individu yang bersinergi dengan kerjasama
tim yang baik.
Bicara soal kemampuan pengenalan medan, tiap calon Gurkha alga
dididik secara khusus dengan materi seperti pembacaan kompas Jan peta,
pengamatan medan, medik lapangan, membuat pertahanan, survival, serta
membuat kamuflase. Ujian terhadap survival skill ini diadakan terpisah
dari ujian senjata, dalam satu tes yang dikenal dengan nama Samjhana
Birsana. Latihan baris-berbaris drill) juga diberikan pada siswa Gurkha,
dan justru ini seringkali erbukti yang tersulit. Kebiasaan anggota
Gurkha yang berasal dari desa terpencil dengan jalan yang terjal
ternyata telah menyulitkan para siswa Gurkha jika diperintahkan berjalan
lurus dalam format barisan
Silabi Sosial
Satu aspek pendidikan yang unik dari Gurkha adalah adanya satu silabi
sosial yang bertujuan untuk mengasimilasikan tiap calon Gurkha dengan
segala aspek kehidupan dan kebudayaan Inggris. Dalam struktur pendidikan
AD Inggris, hanya Brigade Gurkha yang menerima pendidikan semacam ini.
Pendidikan sosial ini dilaksanakan dengan durasi 2 minggu, yang
pelaksanaannya disisipkan ke sepanjang pendidikan sepanjang 37 minggu
tersebut.

Inilah
cara sumpah para prajurit Gurkha setelah dinyatakan lulus. Tangan kanan
diletakkan di meja di depan foto Ratu Inggris, Elizabeth II.
Silabi sosial ini dibagi kedalam tiga tahap, yang dimulai dengan Ex.
Pahilo Kadam, yang arti harafiahnya adalah langkah pertama. Di sini,
tiap siswa diajari mengenal area di sekitar Caterrick, jalan-jalan,
rute, serta bus umum dan taksi yang bisa digunakan. Kota yang
bertetangga vaitu Richmond dan Darlington ‘uga dikunjungi, di mana
biasanya para siswa Gurkha melakukan perjalanan berkelompok dalam
pakaian yang rapi, biasanya setelan jas dan dasi. Pahilo Kadam
dilanjutkan dengan Doshro Kadam (langkah kedua), yang meliputi
perjalanan ke ekeliling kota, dimana tiap calon
diwajibkan berbicara dengan penduk setempat dengan mengguan bahasa
Inggris yang telah diajarkan oleh GLW. Para siswa juga diajak
mengunjungi 3-5 tempat di Iggris Utara dan Skotlandia, terutama
kota-kota bersejarah seperti Edinburgh, York, dan Manchester.
Kota lain yang mungkin dikunjungi adalah Blackpool, Newcastle,
Middlesborough dan Liverpool. Dalam tiap kunjungan, sang Gurunji harus
menemani untuk menjelaskan sebisa mungkin dan menumbuhkan rasa percaya
diri tiap calon Gurkha. Latihan terakhir yang diajarkan adalah Teshro
Kadam (langkah ketiga) di mana siswa diharapkan memiliki rasa percaya
diri dan mampu ‘diilepas’ di Inggris. Latihan ini meliputi kunjungan ke
London, ke Buckingham Palace, Houses of Parliament, Tower of London,
museum madame Tussauds, London Dungeon, dan Museum Ilmu Pengetahuan,
untuk mendapatkan pemahaman mengenai sistem pemerintahan, sejarah, dan
tata kotanya.
Lulus
Siswa Gurkha yang lulus setelah masa pendidikan selama 37 minggu
tersebut akan dibariskan untuk berparade dalam Passing Out Parade, di
mana orangtua dan sanak famili para anggota Gurkha yang dinyatakan lulus
boleh undang menyaksikan putra-putra mereka diterima mengabdi pada
Kerajaan Inggris. Namun karena biasanya rata-rata datang dari keluarga
yang miskin, mereka tidak mampu membelikan tiket pesawat untuk sanak
familinya. Sebagai gantinya, mereka merayakan kelulusan bersama komandan
seksi dalam acara Passing Out Party di mana biasanya tarian tradisional
orang Nepal dipertunjukkan dan dirayakan bersama di hall. Setelah masa
pendidikannya selesai, tiap siswa akan dimasukkan kedalam
resimen-resimen yang telah ditunjuk sebagai seorang prajurit berpangkat
riflemen, siap mengabdi kemanapun Inggris memerintahkan mereka. Bagi
yang nilainya di atas rata-rata, akan ditunjuk ke dalam Queen’s Gurkha
Engineers, Queen’s Gurkha Signal, atau Queen’s Gurkha Logistic Regiment,
dimana mereka akan diberi pendidikan lanjutan sebelum menjadi seorang
spesialis. (aryo nugroho).