Rabu, 13 Februari 2013

Alasan Kenapa Militer AS Dipusatkan ke Asia Pasifik dan Indonesia


Dalam kunjungan pertamanya ke Jakarta sebagai Panglima Komando Militer AS di Kawasan Pasifik (PACOM), Laksamana Samuel J. Locklear III menegaskan bahwa posisi Indonesia dan negara-negara lainnya di Asia Pasifik kini makin strategis di tengah perubahan dinamika kekuatan global. Itulah sebabnya AS dalam beberapa tahun terakhir menitikberatkan kepentingan keamanannya di Asia Pasifik. 

Armada Amerika Serikat di Kawasan Asia Pasifik
Armada Amerika Serikat di Kawasan Asia Pasifik

Dalam kunjungan selama tiga haari di Indonesia ini, Locklear tidak hanya menemui para petinggi keamanan dan militer setempat. Dia juga merasa perlu menemui para cendekiawan, mahasiswa hingga jurnalis dalam suatu acara di Jakarta, Jumat 8 Februari 2013, untuk menjelaskan pandangannya soal pergeseran fokus keamanan AS ke Asia Pasifik, yang pertama kali diumumkan Presiden Barack Obama pada November 2011.

Locklear menyebut pergeseran fokus itu sebagai "Perimbangan Kembali (Rebalance) Peran AS di Asia Pasifik." Dia menegaskan perimbangan yang dimaksud bukan bersifat konfrontatif atau untuk menyudutkan negara atau pihak tertentu. "Ini bukan hanya menyangkut militer tapi juga kebijakan, diplomasi, dan perdagangan... Perimbangan ini adalah suatu strategi kolaborasi dan kerjasama," kata Locklear.    


Setelah mengakhiri perang di Irak dan Afganistan, AS menggeser fokus kepentingan keamanannya ke kawasan ini. Itulah sebabnya lebih dari setengah kekuatan militer laut AS kini ditugaskan beroperasi di kawasan yang terdiri dari beragam negara itu, termasuk Indonesia.

Maka itu, tidaklah heran bila kini Laksamana Locklear memimpin komando gabungan militer terbesar yang dimiliki AS. Wilayah operasi PACOM meliputi Asia Pasifik, Asia Timur, dan Asia Selatan. 


Panglima Komando Militer AS Kawasan Pasifik, Laksamana Samuel J. Locklear III (vivanews)

PACOM dibekali seperlima dari total kekuatan militer AS dan akan memimpin 60 persen dari armada Angkatan Laut Amerika. Saat ini, armada militer AS di Pasifik diperkuat oleh lima kapal induk dengan kekuatan pendukung, yaitu 180 kapal, 1.500 pesawat, dan 100.000 personel militer aktif.   

Locklear memaparkan betapa pentingnya Asia Pasifik bagi kepentingan keamanan negaranya. "Selama hampir setahun menjabat sebagai panglima, saya makin kagum atas beragamnya kompleksitas di kawasan ini, yang melingkupi lebih dari separuh permukaan Bumi dan lebih dari setengah jumlah populasinya. Kawasan ini punya keragaman yang luar biasa secara sosial, budaya, ekonomi, dan geopolitik," kata Locklear.

Dia pun memaparkan data yang cukup spesifik dalam menegaskan betapa banyak dan beragamnya kekuatan di Asia Pasifik saat ini dan itu menjadi perhatian utama AS. "Kawasan ini punya dua dari tiga ekonomi terbesar di dunia dan tujuh dari 10 negara terkecil di muka bumi," kata Locklear.

"Asia Pasifik juga punya negara yang berpenduduk paling banyak di dunia, dan juga negara demokratik terpadat, negara berpenduduk mayoritas Muslim terbanyak, dan republik terkecil," lanjutnya.

Locklear memaparkan bahwa dari segi bisnis dan perdagangan, Asia Pasifik juga sangat strategis. Kawasan ini "memiliki sembilan dari 10 pelabuhan terbesar di dunia, dan jalur-jalur laut paling sibuk yang menghasilkan lebih dari US$8 triliun dari arus perdagangan dua arah yang melibatkan setengah dari total kargo kontainer dunia dan 70 persen dari kapal-kapal pengangkut bahan energi melintasi lautan Pasifik setiap hari," kata Locklear.

Di sisi pertahanan dan keamanan, Asia Pasifik dianggap AS sebagai kawasan yang paling banyak diperlengkapi kekuatan militer. "Kawasan ini punya tujuh dari 10 kekuatan militer terbesar. Lalu, angkatan-angkatan laut terbesar dan paling mutakhir berada di Asia Pasifik."

Selain itu, tidak boleh diabaikan bahwa lima dari negara-negara kekuatan nuklir dunia berada di kawasan ini.

"Semua aspek itu, bila dikumpulkan, menghasilkan suatu kompleksitas strategis yang unik," kata Locklear, yang selama kunjungannya ke Jakarta menemui Panglima TNI, Menteri Pertahanan, dan para pejabat tinggi Indonesia lainnya.

"Jadi, kini ada sebanyak hampir 350 ribu personel militer AS yang berdinas dan tinggal di Asia Pasifik dan bersama mereka juga ada hampir 70 ribu anggota keluarga mereka... Saya tegaskan bahwa Amerika merupakan kekuatan Pasifik. Tidak hanya terletak di Pasifik, namun kami juga punya ikatan sejarah dan ekonomi dengan para negara tetangga sehingga mereka menyadari bahwa kita punya kepentingan yang signifikan sebagai sama-sama negara di Asia Pasifik," kata Locklear.

Locklear menyatakan tidak ambil pusing atas ancaman pengurangan anggaran militer, seperti yang diwanti-wanti oleh Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta, baru-baru ini karena anggaran baru belum kunjung disetujui Kongres. Masalah ini, kata dia, tidak saja dialami oleh militer namun juga melanda pos-pos anggaran lainnya di tubuh pemerintah AS.

"Militer kami memang harus mengantisipasi perkembangan itu... Namun, kabar baiknya, Presiden Obama sebelumnya menyatakan bahwa Asia Pasifik menjadi prioritas bagi militer kami di masa depan. Tidak saja militer namun juga kerjasama di bidang-bidang lain. Jadi, saya perkirakan justru akan ada banyak interaksi di kawasan ini," kata Locklear. 

Soal China
Sebagai panglima PACOM, Locklear mengungkapkan sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi negara-negara Asia Pasifik. Salah satunya adalah perubahan iklim, yang berdampak pada cuaca dan permukaan laut.

"Kondisi itu berpengaruh bagi keamanan masa depan banyak negara di kawasan ini sehingga kita harus paham bagaimana menghadapinya," katanya.

Ancaman-ancaman lain dari aktor non negara seperti organisasi ekstremis yang menggunakan kekerasan, organisasi teroris, perdagangan narkoba dan lain-lain, juga terus mendatangkan masalah.

Asia Pasifik pun kini masih dihadapkan pada konflik perbatasan dan kepemilikan wilayah. Akses dan kebebasan di wilayah laut dan dunia siber juga dilihat menjadi tantangan yang kian meningkat. Rawannya situasi di Semenanjung Korea pun masih jadi soal. Begitu pula dengan bangkitnya China dan India sebagai kekuatan ekonomi baru.

Selain itu, tidak seperti aliansi keamanan NATO di kawasan Amerika dan Eropa, tidak ada suatu mekanisme pemerintahan tunggal di Asia Pasifik yang menyediakan suatu kerangka bersama dalam menyelesaikan konflik. "Itulah sebabnya perimbangan kembali posisi AS menjadi penting bagi Asia Pasifik. Ini menjadi dasar bagi banyaknya peluang kerjasama AS dengan para negara mitra di kawasan," kata Locklear. 

Dia juga meluruskan sikap AS atas berkembangnya pengaruh China di Asia Pasifik. Menurut dia, pola hubungan kedua negara itu tidak sedramatis seperti yang digambarkan media massa. AS, bagi Locklear, tidak melihat China sebagai ancaman walaupun saat ini sedang bersitegang dengan negara-negara sekutu AS, seperti Jepang dan Filipina, menyangkut masalah teritori.

Locklear tidak setuju dengan anggapan yang beredar saat ini bahwa AS tengah berupaya "mengurung China untuk membendung pengaruhnya di kawasan". Strategi yang diterapkan Washington, menurut Locklear, adalah justru terus berupaya melibatkan negara komunis itu untuk ikut bertanggung jawab menjaga stabilitas keamanan di Asia Pasifik. 

"Kami mengupayakan hubungan yang bertahan lama dengan China, termasuk hubungan militer ke militer. Kami berharap bisa mengesampingkan perbedaan-perbedaan pandangan yang ada dan fokus dalam hubungan yang sama-sama memberi manfaat bersama, seperti memerangi perompakan dan terorisme, melindungi jalur komunikasi laut, kerjasama bantuan kemanusian dan penanggulangan bencana," kata Locklear.  

Peran Indonesia


Sebelum datang ke Jakarta, dalam wawancara singkat melalui telepon dengan VIVAnews, Laksamana Locklear menjelaskan bahwa Indonesia termasuk mitra utama bagi AS dalam menjaga stabilitas di Asia Pasifik. Itulah sebabnya dalam kunjungan ke Jakarta, dia juga menegaskan perlunya pengembangan dan penguatan kerjasama keamanan antara AS dan Indonesia.

Salah satu yang jadi prioritas kedua negara adalah kerjasama keamanan maritim. "Ini merupakan salah satu elemen yang penting bagi kedua negara, mengingat Indonesia berada di persimpangan dua lautan besar dan juga di salah satu jalur distribusi yang paling penting di dunia. "Kepemimpinan negara Anda di wilayah ini dan begitu juga dukungan kami atas kepemimpinan negara Anda di kawasan ini akan menjadi kunci untuk bergerak maju," kata Locklear.

Banyak yang telah direncanakan pemerintah kedua negara untuk memperkuat kerjasama itu. "Begitu pula akan banyak latihan bersama dan juga latihan di tingkat multilateral yang makin meningkat," kata Locklear.

Dalam kunjungannya di Jakarta, dia mengatakan bahwa kerjasama antarmiliter kedua negara, terutama sejak 2005, juga semakin erat. "Ini juga termasuk pada kerjasama yang dijalin angkatan laut dari kedua negara. Mengingat letak Indonesia sebagai negara kepulauan di persimpangan yang strategis, kami berharap berbagai kerjasama, seperti berbagi informasi soal situasi keamanan di laut, bisa terus dikembangkan," kata Locklear, yang menjadi Panglima PACOM sejak Maret 2012.

Dalam suatu diskusi beberapa hari sebelum kunjungan Locklear, seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut mengungkapkan bahwa Indonesia memegang posisi yang sangat penting bagi banyak negara besar, termasuk AS. "Wilayah kita ibarat pusat gravitasi keamanan maritim. Itulah sebabnya banyak negara yang ingin meningkatkan kerjasama yang lebih baik dengan Indonesia," kata Kolonel Laut Judijanto, perwira dari Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut (Seskoal). 

Kepala Pusat Olah Yudha (War Game Centre) di Seskoal itu mengingatkan Amerika Serikat telah menjalin kemitraan strategis dengan Indonesia, termasuk meliputi sektor keamanan maritim. Beberapa negara lain juga menjalin kemitraan serupa, seperti China, Korea Selatan, dan Jepang. "Bahkan Uni Eropa pun ingin menjalin kerjasama dengan kita. Begitu pula Inggris," kata Judijanto.

Dia pun menunjukkan betapa pentingnya perairan-perairan Indonesia bagi perdagangan dan pelayaran internasional. "Setiap tahun, 63 ribu kapal melintas Selat Malaka; 3.500 di Selat Sunda, dan 3.900 di Selat Lombok."

Di Selat Malaka, tonase kapal-kapal dagang yang melintas setiap tahun mencapai 525 juta ton dengan nilai US$390 miliar, di Selat Sunda sebanyak 15 juta ton dengan nilai total US$5 miliar, sedangkan di Selat Lombok sebanyak 140 juta ton senilai US$40 miliar.

Presentasi Judijanto itu mendukung penilaian Duta Besar David Merrill--diplomat veteran yang kini memimpin lembaga persahabatan AS-Indonesia, Usindo, yang menjadi penyelenggara diskusi--yang sebelumnya memaparkan bahwa Indonesia memiliki tiga selat kunci bagi perdagangan dan pelayaran global, yaitu Malaka, Sunda, dan Lombok.

"Itulah yang membuat Indonesia punya peran esensial dalam mempertahankan keamanan maritim di Asia Pasifik, begitu pula dengan perdagangan dan pelayaran global," kata Merrill. (kd|Viva)

Indonesia Sudah mampu Membuat Senjata Nuklir


Indonesia Tidak Akan Pernah Buat Senjata Nuklir

Indonesia berkomitmen untuk tidak menggunakan teknologi nuklirnya untuk membuat senjata nuklir. Indonesia pun dianggap berhak untuk meminta kompensasi dari negara-negara maju atas komitmennya tersebut.
Indonesia Sudah mampu Membuat Senjata Nuklir
Ilustrasi

"Indonesia sudah berkomitmen untuk tidak membuat senjata nuklir. Indonesia hanya akan menggunakan teknologi nuklirnya untuk hal-hal yang bermanfaat untuk manusia dan kemanusiaan," ujar anggota Komisi I DPR, M. Nadjib, di sela-sela seminar Kawasan ASEAN Tanpa Senjata Nuklir di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (12/2/2013).

"Dengan komitmennya itu Indonesia berhak untuk mendapatkan kompensasi dari negara-negara maju yang mendukung pemusnahan senjata nuklir," lanjut Nadjib.


Nadjib menerangkan kompensasi yang telah didapatkan Indonesia antara lain bantuan pelatihan dan pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang teknologi nuklir. Menurutnya hal tersebut sangat bermanfaat bagi Indonesia karena teknologi nuklir juga dapat digunakan untuk memantau bencana alam.

"Alat-alat yang digunakan dalam teknologi nuklir sangatlah canggih dan dapat juga dipakai untuk memantau bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, seperti tsunami maupun gunung meletus," pungkas anggota Komisi I itu.


Indonesia dengan Mudah Mampu Bangun Senjata Nuklir

Indonesia disebut dapat dengan mudah membuat senjata nuklir apabila diinginkan. Hal itu dikarenakan Indonesia kini telah memiliki teknologi nuklir yang cukup maju untuk membuat senjata nuklir.

“Patut diketahui Indonesia dapat dengan mudah memiliki senjata nuklir jika mau. Teknologi nuklir yang kini Indonesia miliki dapat dengan mudah diubah menjadi teknologi untuk mebuat senjata nuklir,” ujar anggota Komisi I DPR, M. Nadjib, dalam seminar Kawasan ASEAN Bebas Nuklir di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (12/2/2013).

“Itu sebabnya komunitas internasional mengawasi sangat ketat negara-negara yang diketahui memiliki tenaga nuklir, seperti Iran,” lanjut Nadjib.

Nadjib menyebut komunitas internasional curiga dengan niat Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir karena teknologi tersebut memang dapat dengan mudah diselewangkan untuk membuat senjata nuklir.

“Iran walaupun sampai sekarang tidak terbukti mengembangkan senjata dan mau bekerja sama dengan IAEA, namun tetap saja pihak Barat curiga dengan Iran,” terang anggota DPR itu. (OkeZOne)

Kekuatan Militer Indonesia Ranking 18 Dunia (Update 2012)


Analisis yang dipublikasikan Global Fire Power (GlobalFirepower.com) belum lama ini (tahun 2012) memberikan penilaian yang obyektif untuk menunjukkan peta kekuatan militer negara-negara di seluruh dunia. 
Berdasarkan uji data yang mendukung kekuatan militer, setidaknya berdasarkan penilaian Jumlah Personnel, Weapon Systems, Naval Power, Logistical dan, Resources(Oil Production, Oil Consumption,Oil Proven Reserves),  Indonesia berada pada urutan ke 18 turun 4 peringkat dimana sebelumnya Indonesia berapa pada urutan 14, tetapi masih menduduki urutan pertama kawasan ASEAN, bahkan mengungguli kekuatan Australia yang ada di posisi ke 24 ranking militer seluruh dunia.
Urutan 10 besar ranking militer se dunia dipegang secara berturut-turut : AS, Rusia, China, India, Inggris, Turki, Korsel, Perancis, Jepang dan Israel. Kemudian urutan 11 sampai dengan 20 besar adalah Brasil, Iran, Jerman, Taiwan, Pakistan, Mesir, Italia, Indonesia, Thailand dan Ukraina. Ranking negara ASEAN yang lain adalah Filipina ada di posisi ke 23, Malaysia posisi ke 27, Singapura ke 41.

 Sumber : http://hankam.kompasiana.com/2011/08/04/kekuatan-militer-indonesia-ranking-18-dunia/

Kemhan Optimistis Minimum Essential Forces (MEF) Tercapai tahun 2019


Pemenuhan Kekuatan Pokok Minimal Tercapai 2019
Pemenuhan Kekuatan Pokok Minimal Tercapai 2019
IST
JAKARTA - Kementerian Pertahanan (Kemhan) optimistis pencapaian kekuatan pokok minimal (minimum essential forces/MEF) lebih cepat lima tahun dari target yang telah ditentukan. Jika awalnya pencapaian MEF pada 2024, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yakin bisa tercapai 2019.

"Awalnya pencapaian MEF ditargetkan selesai dalam tiga kali renstra (2009-2024). Namun, ternyata bisa dicapai dalam dua kali renstra (2009-2019)," kata Menhan seusai Rapat Pimpinan di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jakarta, Rabu (9/13). Pencapaian MEF yang lebih cepat lima tahun dari yang ditargetkan ini merupakan sebuah terobosan. Keberhasilan ini tak lain berkat besarnya APBN yang digelontorkan ke Kemhan.

Namun, pada 2012 pencapaian MEF tak sesuai rencana. Target MEF tahun lalu adalah 28,7 persen. Namun, Kemhan hanya berhasil mencapai 26 persen. "Sehingga kurang 2,87 persen dari target yang harus dipenuhi," kata Purnomo. Capaian 26 persen itu dinilai tetap membanggakan karena naik lima persen dari pencapaian MEF pada 2011 yang mencapai 21 persen.

Adapun alasan melesetnya capaian MEF 2012, antara lain karena pemerintah belum dapat mendukung anggaran untuk terpenuhinya MEF. Proses pengadaan melalui birokrasi panjang juga menjadi penyebabnya. Untuk menutup kekurangan itu, Purnomo menjanjikan percepatan pembelanjaan anggaran pada 2013.

Seperti diketahui, anggaran Kemhan dan TNI pada 2012 sebanyak 74,1 triliun rupiah. Penyerapan anggaran untuk pengadaan barang yang menggunakan mata uang rupiah tak terserap maksimal untuk tiga matra TNI. Mabes TNI memang mampu menyerap anggaran hingga 96,25 persen dari pagu anggaran. Namun, untuk TNI AD penyerapan hanya 69,67 persen, TNI AL 69,67 persen, dan TNI AU 55,83 persen.

Reformasi Birokrasi
Untuk memaksimalkan penyerapan anggaran, pada 2013 ini Kemhan menyerukan TNI untuk mengimplementasikan roadmap reformasi birokrasi yang sudah ditetapkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. "Kami juga berharap semua matra mengupayakan secara maksimal terlaksananya butir-butri kebijakan negara 2013," katanya.

Dan upaya selanjutnya, Purnomo meminta semua pihak untuk meningkatkan transparansi sistem pelaporan keuangan.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengapresiasi kinerja jajarannya yang bekerja keras dalam pengadaan alutsista. Dia optimistis bisa mempercepat pencapaian MEF pada 2019. Saat ini pihaknya terus melakukan tiga hal besar dalam upaya pencapaian MEF, antara lain pertama penghapusan alat utama sistem senjata (alutsista) yang sudah tak bisa lagi digunakan. Kedua, peningkatan kemampuan alutsista yang saat ini dalam kondisi kurang maksimal. Dan ketiga, pengadaan alutsista baru. "Semua sudah diperhitungkan. Itu makanya kita optimistis MEF bisa dipercepat menjadi hanya dua kali renstra," ujar Panglima.

Untuk target pembangunan kekuatan TNI, pihaknya berencana membangun 25 pos pertahanan darat dan lima pos pertahanan di pulau terdepan. Hingga kini, target itu baru terealisasi tujuh pos pertahanan darat dan dua pos pertahanan pulau terluar.

Sementara itu, Menhan menyatakan pembekuan anggaran alutsista sebesar 678 miliar rupiah oleh Kementerian Keuangan tak memengaruhi percepatan pencapaian MEF. "Pembekuan itu tak memengaruhi perubahan master list alutsista yang sudah kita rancang," ujar Purnomo.

Dia menjelaskan, pembekuan dana itu masuk dalam pos alutsista pendukung atau di luar master list. Menhan juga yakin tak ada mark up anggaran seperti yang dituduhkan selama ini.

Namun demikian, Sekretaris Jenderal Kemhan Marsekal Madya Erris Herryanto menyatakan Kemhan masih menunggu pembekuan itu segera dicabut agar segera bisa dibelanjakan. "Kami berharap pada 2013 ini anggaran tersebut bisa cair," ujarnya. nsf/P-3

Rancangan Undang-Undang Wajib Militer Bisa Disahkan Tahun Ini


Kementerian Pertahanan menilai Rancangan Undang-Undang Komponen Cadangan Pertahanan Negara amat mendesak untuk segera disahkan tahun ini. Juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Hartind Asrin, menilai  peraturan itu sangat dibutuhkan untuk meningkatkan nasionalisme masyarakat dan keamanan negara. “Dibandingkan Malaysia dan Singapura, kita sangat ketinggalan," kata Hartind, Ahad 22 Juli 2012.
Wajib Militer Indonesia
Wajib Militer Indonesia

RUU itu sebenarnya sudah masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) sejak 2004, bahkan masuk kategori prioritas pada 2010. Namun hingga kini RUU belum juga selesai dan pembahasannya masih tertahan di Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat.

Dalam RUU Komponen Cadangan Pertahanan tersebut, warga sipil dipersiapkan untuk mendapat pelatihan militer. Selanjutnya, sewaktu-waktu mereka dapat dikerahkan dan dimobilisasi untuk memperbesar serta memperkuat kekuatan dan kemampuan Tentara Nasional Indonesia.

Menurut Hartind, program serupa sudah dilakukan di Malaysia sejak 2003,  dengan nama Program Latihan Khidmat Negara (PLKN). Setiap tahun, 18 ribu warga Malaysia menjalani program tersebut. "(Program) itu sangat efektif meningkatkan keamanan masyarakat," ujar dia sembari mencontohkan, peningkatan kemampuan warga untuk membela diri jika terjadi kejahatan di sekitarnya. 

Adapun beberapa materi yang akan diberikan dalam pelatihan selama sebulan kepada komponen cadangan adalah kemampuan dasar militer, seperti baris-berbaris dan bela diri. Selain itu, diberikan materi nasionalisme, seperti Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Sumpah Pemuda.

Saat ini DPR dan Kementerian Pertahanan sedang membicarakan hal-hal teknis dalam RUU agar tujuan pembentukan komponen cadangan tercapai dengan baik.  “Contohnya, siapa warga yang diwajibkan dan dikecualikan mengikuti pelatihan. Misalnya, kalau pengangguran tidak boleh ikut pelatihan karena khawatir akan disalahgunakan," tutur Hartind. 



Sumber : Tempo

GURKHA

Seleksi dan rekruitmen pasukan Gurkha mungkin boleh disebut yang terunik di dunia. Bagaimana tidak, alih-alih menempa para prajurit Gurkha dengan latihan keras, para rekrutmen yang datang sudah punya modal fisik yang tangguh.
Inggris memang beruntung. Fisik anggota suku-suku di kaki gunung Himalaya yang mendaftar masuk menjadi prajurit Gurkha rata-rata memang sudah di atas standar yang diinginkan. Kalau diibaratkan patung, alam dan lingkungan Nepal telah mampu membentuk fisik para rekrutmen menjadi sekeras cadas. AD Inggris hanya tinggal memolesnya saja untuk menjadi prajurit tempur yang tangguh.
Akan tetapi, AD Inggris tentu hanya mau input yang terbaik. Berhubung Resimen Gurkha personelnya terus-menerus diciutkan, seleksi pada tahun-tahun belakangan menjadi semakin ketat. Namun hal ini tidak menghalangi minat pendaftar. Maldum saja, terpilih menjadi kandidat Gurkha laksana mendapatkan lotere, karena itu menjadi tiket keluar dari kemiskinan dan jalan keluar untuk melihat dunia yang lebih luas. Tiap tahunnya, tak kurang dari 25.000 pemuda mendaftar masuk dalam seleksi menjadi anggota Gurkha, padahal yang diterima tak lebih dari 230.
Foto-foto ini adalah gambaran proses rekrutmen pasukan Gurkha. Diantaranya adalah pemeriksaan gigi.
Tes ketahanan tubuh dengan sit-up
Setelah lolos seleksi mereka dibariskan berdasarkan nomor angkatan. Seleksi Gurkha terkenal sangat ketat. Pada tahun 1998, dari 300 pelamar hanya satu orang yang diterima.
Tugas perekrutan prajurit Gurkha jatuh ke tangan BGN (British Gurkha Nepal) yang bermarkas di Jawalakhel, Kathmandu. BGN yang bertanggungjawab langsung kepada HQ, Land Command dipimpin oleh seorang perwira berpangkat kolonel yang biasanya sekaligus menjabat sebagai atase pertahanan di Kedutaan Besar Inggris di Kathmandu. BGN bertanggungjawab terhadap segala urusan seorang prajurit Gurkha, mulai saat is direkrut sampai kemudian memasuki pensiunnya. Dalam hal sirkulasi uang, BGN merupakan kekuatan ekonomi terbesar keempat di Nepal, melebihi berbagai perusahaan-perusahaan swasta. BGN memiliki 3 pusat pelatihan yaitu British Gurkhas Kathmandu, British Gurkhas Pokhara, dan British Gurkhas Itahari. Dari ketiganya, Britih Gurkhas Pokhara yang terletak di distrik Barat, 8 jam perjalanan dari Kathmandu, merupakan koordinator proses rekrutmen.
Dalam proses rekrutmen Gurkha, BGP dibantu oleh Galla Wallah Galla Wallah merupakan pensiunan Gurkha yang bekerja secara khusus untuk mencari kandidat-kandidat calon Gurkha terbaik. Galla Wallah bekerja sesuai dengan arahan BGN dan memulai pencariannya dari desa ke desa pada bulan Mei sampai September. Seleksi yang dilakukan oleh Galla Wallah biasanya didasarkan oleh pada sejumlah standar fisik, seperti tinggi badan, lebar bahu, dan ukuran-ukuran spesifik lainnya. Dalam periode lima bulan tersebut, seorang Galla Wallah bisa merekrut sampai 100 calon, biasanya diutamakan dari yang keluarganya memiliki sejarah pengabdian di dalam Gurkha Regiment.
Sebagian pemuda Nepal yang datang dan mendaftar sebagai prajurit Gurkha pada tahun 1997 saat sedang menjalani seleksi fisik. Terlihat wajah-wajah belia dan polos namun degan tubuh yang tegap berisi. Pemuda-pemuda desa ini berharap dapat memperbaiki taraf hidup diri dan keluarganya degan menjadi prajurit Gurkha.
Pada waktu yang telah ditentukan, biasanya di awal musim semi, para calon-calon kandidat mendatangi bukit yang telah ditentukan untuk menjalani hill selection. Di bukit tersebut, telah menunggu enam tim yang terdiri dari para NCO Gurkha yang akan melakukan penyaringan awal berdasarkan pemeriksaan kesehatan, kemampuan baca-tulis dasar, dan tes fisik dasar. Dad puluhan ribu yang datang, yang diambil hanya 800-900 orang, jadi sudah terbayang betapa ketatnya saringan untuk menjadi seorang Gurkha. Bagi sejumlah kecil yang lulus, mereka diberitahu untuk datang ke Pokhara guna menjalani seleksi lanjutan.
Pada bulan Desember sampai Januari, BGP menyelenggarakan seleksi yang disebut Central Selection. Inilah yang merupakan tes awal yang sesungguhnya. Para kandidat yang sudah dinyatakan lulus dalam hill selection berdatangan ke pusat latihan di Pokhara. Sebagian menggunakan kendaraan umum, tapi ada yang berjalan kaki berjam-jam dari desanya sendiri. Para pemuda yang sudah tiba di Pokhara akan dibariskan. Mereka diperintahkan bertelanjang dada dan cat khusus dicoretkan secara yertikal di dada, mencegah mereka -ang dinyatakan gagal untuk menjalani tes ulang. Selanjutnya, tiap kandidat harus menjalani ,eiumlah tes, dimulai dari tes esehatan yang meliputi x-ray dan gigi, kemudian dilanjutkan dengan :es baca-tulis. Bagi sebagian besar kandidat, mungkin inilah pertama kalinya dalam hidupnya mereka bertemu dan menjalani pemeriksaan check-up bersama dokter dan berkenalan dengan pengobatan modern.
Salah satu proses menjadi prajurit Gurkha adalah berlari lintas alam dengan menggendong beban seberat 35 kg dengan doko keranjang tradisional Nepal.
Setelah tes kesehatan dan administratif selesai, giliran tes kecakapan fisik yang didesain dalam beberapa tahap. Seorang kandidat harus mampu melakukan 13 pull up dengan beban serta 25 kali sit-up dalam satu menit, dilanjutkan terus dengan dicatat sampai akhirnya si kandidat kelelahan. Kandidat juga harus berlari sejauh 1,5 mil dalam 14 menit, diselingi istirahat sejenak, lalu harus lari lagi sejauh 1,5 mil dalam 10 menit. Ujian akhir dalam Central Selection adalah Doko Race, yang dilaksanakan pada sore hari di bukit di sebelah pusat latihan Pokhara. Tiap kandidat harus berlari ke atasnya, mendaki ke atas dengan memanggul beban berupa batu seberat 35kg dalam doko (keranjang tradisional Nepal). Setelah sampai di atas, mereka harus berlari lagi ke bawah, dan satu kali perjalanan bolak-balik tersebut hams sudah diselesaikan sebelum stopwatch menunjukkan waktu 35 menit. Seleksi ini jauh lebih ketat daripada tes masuk prajurit untuk unit infantri reguler AD Inggris, sehingga dari awal sudah ketahuan bahwa Gurkha memang didesain sebagai satu kesatuan yang elite, dengan kohesifitas tim yang luar biasa. Mereka yang lulus kemudian dibariskan untuk menjalani At- testation Parade. Satu-persatu, tiap kandidat menghadap ke arah foto Ratu Elizabeth II yang diletakkan di atas hamparan bendera Union Jack. Tiap kandidat memberikan hormat pada Ratu, dan kemudian menyentuhkan tangannya ke Union Jack seraya mengucap sumpah setia pada Ratu dan Negeri Inggris Raya. Setelah itu, tiap kandidat yang lulus tadi diberikan kesempatan untuk menemui istri atau sanak keluarga yang biasanya menyertai mereka dalam perjalanan ke Pokhara, untuk mengucapkan salam perpisahan. Biasanya upacara kecil-kecilan dilaksanakan pada momen-momen terakhir sebelum tiap kandidat diberangkatkan ke Inggris. Untaian Marla (karangan bunga) dan scarf sutra akan dikalungkan di leher kandidat untuk memberikan doa restu dan keselamatan, serta upacara Tika, meraupkan tepung beras ke kening sebagai simbol restu dari keluarga.
Tiba di  Inggris
Tahap selanjutnya, kandidat akan dibawa ke Inggris, tepatnya ke Gurkha Training Company di Catterick, yang juga merupakan markas dari 2nd Battalion, Infantry Training Centre. Rumah baru bagi GTC ini baru ditempati pada Desember 1999, setelah sebelumnya beberapa kali mengalami kepindahan. Pada Agustus 1951- 1971, Gurkha Training Depot dipusatkan di Sungai Patani, Kedah Malaysia. Seiring berakhirnya Malaya Emergency dan Konfrontasi, pusat latihan Gurkha ikut bergeser mengikuti kepindahan markas besar Gurkha ke Hongkong, di Sek-Kong. Dan ketika Hongkong diserahkan ke RRC pada 1994, Gurkha Training Wing ikut bergeser di Church Crock-ham, tepatnya di Queen Elizabeth barracks, sebelum berpindah ke tempatnya yang baru sekarang.
Papan nama di depan kantor pusat Gurkha di Pokhara, Nepal.
Di Helles Barracks, tiap kandidat yang baru tiba ditempatkan ke dalam salah satu dari dua Wing, Wing A (Imphal) dan Wing B (Catterick) dan digolongkan sebagai SUT (Soldier Under Training), tak beda dengan taruna lainnya. Namun begitu, silabi pendidikan untuk talon Gurkha tetap dibedakan, begitu pula cara pendidikannya. Sebagai contoh, tiap taruna langsung ditunjuk masuk kedalam seksi (setara regu dalam terminologi AS) yang dipimpin oleh seorang kopral yang juga seorang Gurkha. Bagi tiap anggota seksi, kopral ini adalah ayah, sahabat, kakak, dan juga sekaligus pemimpin mereka. Pemimpin seksi ini disebut Gurunji (Guru) oleh para siswanya, dan memang begitulah cara mendidik para siswa Gurkha.
Dibanding menggunakan seorang drill sergeant yang menerapkan disiplin militeristik yang kaku dan keras, seorang Gurunji menggunakan metode semi formal dalam menanamkan setiap nilai dan pengetahuan yang diperlukan seorang calon Gurkha. Metode ini dianggap lebih efektif, mengingat siswa Gurkha yang datang dari desa-desa terpencil pasti akan terkaget-kaget bila langsung didrill secara keras, dan bukan tak mungkin akan membangkang. Lagi pula nyaris semua calon Gurkha ini tidak (bisa berbahasa Inggris, dan keberadaan Gurunji juga membantu mereka meningkatkan pemahamannya akan bahasa man mereka saat ditugaskan kelak. Tiap siswa akan diberikan pelajaran bahasa Inggris secara intensif yang dilakukan oleh Gurkha Language Wing selama 9 minggu, 3 minggu di kelas dan 6 minggu secara berselang-seling dengan silabi militer.
Silabi Militer
Sementara untuk penggemblengan kecakapan keprajuritan Gurkha, AD Inggris ternyata merasa cukup menerapkan CIC (Combat Infatryman Course) yang sama dengan prajurit reguler AD Inggris. Maklum saja, soal urusan fisik, Central Selection dianggap sudah mampu menyaring kandidat sehingga tiap calon yang sampai di Inggris punya modal lebih dalam hal kebugaran dan kemampuan fisik, tinggal memolesnya saja untuk menjadi seorang prajurit infanteri Gurkha yang tangguh. Pendidikan selama 37 minggu ini dipusatkan pada pembangunan kemampuan fisik dan kemampuan tempur, terutama dalam manuver seksi dan peleton. Total jenderal ada delapan kali latihan, dengan 37 hari dan 26 malam dihabiskan di medan, sisanya di kelas.
Beberapa prajurit Gurkha sedang mengunjungi Pantai Gibraltar dan berpose di depan sebuah meriam perlahanan pantai. Kunjungan seperli ini merupakan salah satu silabi sosial yang harus dijalani setiap prajurit Gurkha.
Materi yang diajarkan mulai dari taktik serang level seksi, patroli, pertahanan, FIBUA (Fighting in Built Up Areas) termasuk materi terbatas pertempuran jarak dekat, diakhiri 5 hari latihan kecakapan dengan menggunakan senjata level seksi, mulai dari senapan serbu L85A2, senapan mesin regu L86A2, senapan mesin FN MAG/ L7, granat, dan mortir 60 mm. Ujian akhir dilaksanakan dalam bentuk mock-up serangan dengan manuver level peleton, untuk memastikan bahwa setiap siswa Gurkha mampu menunjukkan kemampuan tempur individu yang bersinergi dengan kerjasama tim yang baik.
Bicara soal kemampuan pengenalan medan, tiap calon Gurkha alga dididik secara khusus dengan materi seperti pembacaan kompas Jan peta, pengamatan medan, medik lapangan, membuat pertahanan, survival, serta membuat kamuflase. Ujian terhadap survival skill ini diadakan terpisah dari ujian senjata, dalam satu tes yang dikenal dengan nama Samjhana Birsana. Latihan baris-berbaris drill) juga diberikan pada siswa Gurkha, dan justru ini seringkali erbukti yang tersulit. Kebiasaan anggota Gurkha yang berasal dari desa terpencil dengan jalan yang terjal ternyata telah menyulitkan para siswa Gurkha jika diperintahkan berjalan lurus dalam format barisan
Silabi Sosial
Satu aspek pendidikan yang unik dari Gurkha adalah adanya satu silabi sosial yang bertujuan untuk mengasimilasikan tiap calon Gurkha dengan segala aspek kehidupan dan kebudayaan Inggris. Dalam struktur pendidikan AD Inggris, hanya Brigade Gurkha yang menerima pendidikan semacam ini. Pendidikan sosial ini dilaksanakan dengan durasi 2 minggu, yang pelaksanaannya disisipkan ke sepanjang pendidikan sepanjang 37 minggu tersebut.
Inilah cara sumpah para prajurit Gurkha setelah dinyatakan lulus. Tangan kanan diletakkan di meja di depan foto Ratu Inggris, Elizabeth II.
Silabi sosial ini dibagi kedalam tiga tahap, yang dimulai dengan Ex. Pahilo Kadam, yang arti harafiahnya adalah langkah pertama. Di sini, tiap siswa diajari mengenal area di sekitar Caterrick, jalan-jalan, rute, serta bus umum dan taksi yang bisa digunakan. Kota yang bertetangga vaitu Richmond dan Darlington ‘uga dikunjungi, di mana biasanya para siswa Gurkha melakukan perjalanan berkelompok dalam pakaian yang rapi, biasanya setelan jas dan dasi. Pahilo Kadam dilanjutkan dengan Doshro Kadam (langkah kedua), yang meliputi perjalanan ke ekeliling kota, dimana tiap calon
diwajibkan berbicara dengan penduk setempat dengan mengguan bahasa Inggris yang telah diajarkan oleh GLW. Para siswa juga diajak mengunjungi 3-5 tempat di Iggris Utara dan Skotlandia, terutama kota-kota bersejarah seperti Edinburgh, York, dan Manchester.
Kota lain yang mungkin dikunjungi adalah Blackpool, Newcastle, Middlesborough dan Liverpool. Dalam tiap kunjungan, sang Gurunji harus menemani untuk menjelaskan sebisa mungkin dan menumbuhkan rasa percaya diri tiap calon Gurkha. Latihan terakhir yang diajarkan adalah Teshro Kadam (langkah ketiga) di mana siswa diharapkan memiliki rasa percaya diri dan mampu ‘diilepas’ di Inggris. Latihan ini meliputi kunjungan ke London, ke Buckingham Palace, Houses of Parliament, Tower of London, museum madame Tussauds, London Dungeon, dan Museum Ilmu Pengetahuan, untuk mendapatkan pemahaman mengenai sistem pemerintahan, sejarah, dan tata kotanya.
Lulus
Siswa Gurkha yang lulus setelah masa pendidikan selama 37 minggu tersebut akan dibariskan untuk berparade dalam Passing Out Parade, di mana orangtua dan sanak famili para anggota Gurkha yang dinyatakan lulus boleh undang menyaksikan putra-putra mereka diterima mengabdi pada Kerajaan Inggris. Namun karena biasanya rata-rata datang dari keluarga yang miskin, mereka tidak mampu membelikan tiket pesawat untuk sanak familinya. Sebagai gantinya, mereka merayakan kelulusan bersama komandan seksi dalam acara Passing Out Party di mana biasanya tarian tradisional orang Nepal dipertunjukkan dan dirayakan bersama di hall. Setelah masa pendidikannya selesai, tiap siswa akan dimasukkan kedalam resimen-resimen yang telah ditunjuk sebagai seorang prajurit berpangkat riflemen, siap mengabdi kemanapun Inggris memerintahkan mereka. Bagi yang nilainya di atas rata-rata, akan ditunjuk ke dalam Queen’s Gurkha Engineers, Queen’s Gurkha Signal, atau Queen’s Gurkha Logistic Regiment, dimana mereka akan diberi pendidikan lanjutan sebelum menjadi seorang spesialis. (aryo nugroho).

KOPASSUS

“Kemenangan pasukan terletak pada pasukan elit, keberaniannya terletak pada komando, kecakapannya terletak pada penyusunan dan semangat,…. dan tindakan yang merugikan orang lain terletak pada pertempurannya yang diulang-ulang”
— Sun Tzu II dalam The Lost Art of War (1996, terjemahan Indonesia) —
Artinya adalah, sehebat apapun sebuah pasukan kalau terusmenerus harus berada di medan perang yang sama, pastilah akan mengalami kerugian. Menurut Sun Tzu II, kalaupun menang tentulah ditebus dengan kerugian yang amat perih. Kuncinya adalah, para jenderal yang mengirim serdadu ke medan perang haruslah memperhitungkan kelelahan fisik dan mental yang akan melanda pasukan. Mencapai batas maksimum ketahanan manusia, itulah yang ingin dikejar di depo-depo pendidikan prajurit komando. Prajurit ditempa dengan sangat ganas sampai ia merasakan kesakitan yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Ada pihak menyebutnya tidak manusiawi.
Tapi apakah perlakuan yang akan diterima seandainya ia tertangkap musuh akan lebih manusiawi? Tidak hanya dilatih menghadapi siksaan musuh, juga menghadapi pertempuran lama dan melelahkan seperti yang dikhawatirkan Sun Tzu II. Kopassus saat ini memiliki dua grup tempur berseragam (Parako): Grup 1 di Jakarta dan Grup 2 di Kartosuro, Solo. Sam lagi disebut Grup 3 Sandi Yudha yang tak lain blue jins soldiers serta makin lengkap dengan Satuan 81 Penanggulangan Teror. Setingkat dengan keempat unit adalah Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar. Kelima satuan ini dipimpin perwira berpangkat kolonel.
Keterpampilan lempat pisau bukan urusan mudah. Dalam kondisi terdesak, keahlian ini bisa sangat berguna melumpuhkan musuh.
Grup 1 memiliki karakter keras, cepat dan militan. Karakter yang menjadi identitas satuan ini merupakan warisan dari senior pendahulu. Karakter itu terus dipertahankan dari generasi ke generasi hingga akhirnya menjadi trade mark satuan. Sebagai satuan tempur, Grup 1 sangat lah ideal. Semua anggota tinggal di komplek markas yang terawat dengan baik. Fasilitas latihan sangat memadai. Mulai dari dari halang rintang, hutan, kolam renang, menara, lapangan tembak 600 dan 300 meter, lapangan tembak pistol serta sebuah lapangan tembak bulat 15 meter. Lapangan ini digunakan untuk mengasah kemampuan tembak reaksi. Ketika COMMANDO melakukan peliputan, fasilitas CQB (close quarter battle) tengah dibenahi. Untuk menjawab kebutuhan gerak cepat, tersedia tiga heli pad. Lalu jika ditelusuri track yang mengitari markas di samping pagar pembatas, panjangnya 5,5 kilometer. Jalanan ini biasa digunakan untuk jogging tiap senin dan tanggal 17.
Demo beladiri wushu Grup 1 saat HUT Kopassus 2005
Syarat ketat
Ada beberapa tahapan yang mesti dilalui bagi warga negara Republik Indonesia untuk menjadi prajurit Kopassus. Secara umum harus lulus pendidikan pembentukan sesuai tingkatan. Mulai dari Secata (Sekolah Calon Tamtama), Secaba (Sekolah Calon Bintara), Sepa PK (Sekolah Pembentukan Prajurit Karir) dan Akademi Militer. Setelah lobos dari saringan penerimaan, mereka melanjutkan ke tahap pendidikan kecabangan, pendidikan para dasar, latihan komando selama tujuh bulan yang berakhir dengan pembaretan di Nusakambangan. Setelah di satuan akan ditambahkan dengan materi spesialisasi dasar.
Bagi yang melewati pintu masuk dari Sepa PK dan Akademi Militer, pendidikan para dan komando baru dilakukan setelah dilantik sebagai perwira. Pendidikan komando bertujuan untuk mendidik dan mengembangkan kemampuan prajurit Kopassus sehingga mampu baik secara individu dan kelompok melaksanakan operasi komando.


Dalam proses rekrutmen, Kopassus menerapkan standar di atas rata-rata. Dari postur tubuh saja, minimal 168 sentimeter. Bahkan era Prabowo Subijanto pernah mencapai 170 sentimeter. Penerapan standar tinggi ini tentu dengan maksud untuk mendapatkan sosok prajurit yang tangguh dan berwibawa. Dari semua tahapan pendidikan di atas, materi komando diakui paling berat. Namun justru dari sinilah awalnya pembentukan prajurit individu seperti yang dibutuhkan Kopassus sebagai komando tempur. Kenyataannya walau seberat apapun, toh generasi muda tetap berduyun-duyun mengikuti seleksi penerimaan anggota Kopassus. Ada kebanggaan memang ketika baret merah melekat di kepala.
Membaca jejak musuh. Dengan keahliannya. Parako bisa menduga kapan posisi itu ditinggal musuh.
Adalah Mayor Inf Sarwo Edhi Wibowo yang banyak membawa angin perubahan dalam pendidikan komando. Komandan ke 4 ini menata materi pendidikan lebih sistematis dan terarah sesuai kebutuhan. Termasuk mencari daerah latihan Akhir dari penyempurnaan adalah ditetapkannya tahapan pendidikan komando: Tahap Basis, Gunung dan Hutan serta Tahap Pendaratan Laut.
Kecepatan reaksi tidak hanya harus mampuni di medan lapang. Kadang di sela semak belukar, prajurit Parako harus bisa bergerak cepat dengan senjata mengarah kedepan untuk mengejar musuh yang lari. ketika sesi foto ini dibuat, fotograper COMMANDO sempat kelabakan mengikuti gerak pasukan yang terlalu cepat. Mengejar komposisi pas, kecepatan dan posisi pasukan, itulah susahnya.
Waktu pendidikan ditetapkan selama 20 minggu. Periode pelatihan dibagi atas Latihan Dasar Komando (10 minggu), Gunung dan Hutan (enam minggu) dan Pendaratan Laut (empat minggu). Dalam ketiga tahapan ini, siswa komando menerima 63 materi pelajaran seperti teknik tempur, baca peta, pionir, patroli, survival, naik gunung serta pendaratan dengan kapal motor dan pendaratan amfibi. Pada masa setelah itu, waktu pendidikan mengalami peningkatan menjadi 22 minggu.

Malah karena kebutuhan organisasi dan lapangan yang terns meningkat, tahun 1991 waktu pendidikan menjadi 28 minggu. Para petinggi di Mako Kopassus terus berupaya mengupgrade kemampuan dan keterampilan prajurit. Maka diciptakanlan 28 jenis pendidikan dan kursus untuk mempertajam kemampuan. Mulai dari pendidikan sandi yudha, kursus pelatih komando, kursus pelatih sandi yudha, kursus pelatih para, kursus pelatih free fall, kursus jump master dan kursus pandu udara (path finder).
Hingga pertengahan 1990-an, Kopassus akhirnya mencapai pertumbuhan terbesarnya. Dari tiga grup dikembangkan menjadi lima grup. Kebutuhan personel meningkat dengan cepat. Ujungujungnya yang kelimpungan adalah Pusdik Passus. Untuk mengakalinya, akhirnya gelombang pendidikan yang sebelumnya sekali setahun dijadikan dua kali. Dan untuk memberikan jeda refreshing kepada Pusdik, waktu pendidikan dikurangi menjadi 20 minggu dengan tidak mengurangi materi. Artinya terjadi pemadatan materi. Dalam crash program ini calon prajurit diambilkan dan sejumlah Kodam serta werving internal di setiap grup Setelah kebutuhan terpenuhi, pendidikan komando kembali menjadi 28 minggu setahun sekali.
Paket ini masih dipertahankan hingga hari ini. Pendidikan komando diakhiri di Nusakambangan. Sebelum acara pembaretan, selalu diadakan demo penutup dari siswa komando yang disaksikan para undangan dan keluarga siswa. Kopassus menyebut demo saat matahari terbit ini dengan Seruko (Serangan Regu Komando). Setelah menyelesaikan pendidikan komando dan para dasar serta berhak menyandang brevet komando dan baret merah, saatnya berdinas pun dimulai.
Prajurit-prajurit barn itu disebar di Grup 1 dan 2. Di Grup, pada tahap awal mereka akan melaksanakan orientasi untuk mendapatkan gambaran tugas, nilainilai dan tradisi satuan barunya. Baru setelah itu dibawah pembinaan Grup, mereka menerima beberapa materi latihan. Baik untuk meningkatkan kemampuan, setidaknya memelihara kualifikasi yang sudah diperoleh. Tuntutan selama di Grup adalah setiap prajurit minimal hams mengikuti saw kali tugas operasi. Tuntutan ini adalah syarat mutlak apabila salah sam dari mereka dipromosikan ke Sat 81 atau Grup 3.
Pada masa menunggu sebelum tugas operasi turun, prajurit diberi pendidikan lanjutan. Yaitu pendidikan spesialisasi dan pendidikan khusus di Sekolah Pertempuran Khusus (Sepursus).
Sepursus diselenggarakan di Pusdik Passus, Batujajar. Kemampuan yang akan dikuasai ini sangat menunjang dalam operasi komando. Karena beroperasi dalam tim-tim kecil dengan menerapkan teknik-teknik unconventional warfare, pertempuran yang dilakukan memang tidak keroyokkan. Perebutan, pengepungan, pencidukan, penyekatan atau penculikan tokoh musuh, adalah jenis pertempuran yang tidak sembarangan.
Meluncur dari tower, adalah kemampuan standar yang harus dimiliki. Kekuatan tangan dan bahu, jadi kunci.
Untuk itulah, materi-materi di Sepursus diarahkan kepada kebutuhan tugas. Meliputi PJD (Pertempuran Jarak Dekat), perang kota, gerilya lawan gerilya, selam militer dan antiteror. Selain Sepursus, prajurit juga diharuskan mengikuti pendidikan spesialisasi. Jika Sepursus difokuskan untuk level kelompok tempur, maka pendidikan spesialisasi adalah kecakapan individu untuk mendukung kelompok tempur. Kopassus menggunakan istilah regu untuk kelompok tempur terkecilnya yang berkekuatan 10 orang.
Sniper Accuracy International 7,62 milimeter. Pada kenyataannya, sniper ini jarang dibawa regu. Kelincahan gerak di hutan, jadi pertimbangan kenapa sniper ini jarang dibawa. Kecuali penugasan sangat khusus.
Pendidikan komando
Melelahkan dan meruntuhkan mental. Itulah kesimpulan akhir dan pendidikan komando. Ada yang kuat, setengah kuat dan yang gagal di tengah jalan. Penilaian akhir pendidikan komando dilakukan secara akumulatif dari puluhan materi yang diberikan. Dari penilaian itu akan terlihat kecenderungan, kelebihan dan kekurangan seorang prajurit. Peserta gagal biasanya karena sakit.

Standar selama pendidikan di atas rata-rata. Kalau nilai jasmani di satuan lain minimal 61, Kopassus menerapkan angka 70. Nilai yang sama untuk menembak. Yang berat juga dalam urusan jasmani adalah renang nonstop 2.000 meter dan renang ponco menyeberangi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.
Unit PJD dengan kendaraan khusus Land Rover dilengkapi senapan berat CIS 12,7 milimeter
Setidaknya ada dua materi yang bikin bulu kuduk merinding dalam tahap Perang Hutan. Yaitu Pelolosan dan Kamp Tawanan Sebagian prajurit Kopassus yang ditanya soal dua materi ini hanya bisa tersenyum tipis sambil melirik COMMANDO. “Berat, berat sekali tapi harus dilalui apapun yang akan terjadi,” aku seorang prajurit Grup 1.

Pelolosan diawali dengan dilepasnya siswa satu demi satu di sebuah tempat di Nusakambangan. Dalam hitungan tertentu, is harus tiba di save house di pantai Permisan. “Kalau ditarik garis, itu dari ujung ke ujung pulau hingga berakhir di Permisan,” jelas Kapten Inf Agus Widodo, Perwira Seksi Intel Grup 1. Pelolosan dimulai pukul 7 pagi hingga paling lambat memasuki save house pukul 10 malam.
Setelah dilepas instruktur, siswa yang tidak dibekali apapun itu hams mampu menembus segala rintangan selama di perjalanan. Rintangan baik dari alam atau rekaan para instruktur. Rekaan instruktur bisa berupa tembakan atau dikejar sampai tertangkap. “Kami harus berupaya agar tidak tertangkap, karena tertangkap sama saja gagal melaksanakan tugas,” kata Agus. Apa jadinya kalau tertangkap? Bayangkan saja perang sungguhan ketika seorang tentara musuh tertangkap. Dimasukkan ke dalam tahanan lalu diinterogasi dan disiksa sampai buka mulut. Gebukan, tendangan, hantaman benda keras dan sejumlah siksaan lainnya yang mungkin tidak bisa disebutkan, hams diterima bagi yang tertangkap. Katanya sejumlah tentara asing mengakui bahwa materi ini tidak manusiawi. Menurut Kapten Agus, latihan ini membuat mereka betul-betul sadar ancaman yang bisa saja diterima dalam sebuah pertempuran.
Selesai Pelolosan, berikutnya sudah menunggu materi Kamp Tawanan Jika di Pelolosan hanya yang tertangkap merasakan siksaan sebagai tawanan, maka di Kamp Tawanan seluruh siswa merasakannya. Selama tiga hari tiga malam, siswa merasakan beratnya menjadi tawanan perang. Walau semua jenis siksaan fisik ini sudah ditentang lewat Konvensi Jenewa, namun siapa bisa menjamin tidak akan terjadi. Contoh paling aktual lihat saja penyiksaan tawanan Irak di Baghdad Correctional Facility yang dulunya Penjara Abu Ghraib oleh tentara Amerika Serikat tahun 2004.